The Lippo Way!How They Get So Rich

The Lippo Way!How They Get So Rich



.<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way!It's How They Get So Rich">
Pada postingan sebelum ini kita telah membahas bagaimana Mochtar Riyadi dan anaknya James Riyadi via The Lippo Group menguasai secara keseluruhan  peluang bisnis di Indonesia,sebut saja seperti Bisnis SuperMarket,Property,Hospitality,Pendidikan dan pelbagai lagi.

Cara Lippo group menakluki semua cabang bisnis tersebut bukan saja dengan cara legal,malah tidak kurang terjadi dengan cara-cara kotor;illegal,hingga sanggup melenyapkan nyawa saingan bisnisnya.

Anda boleh baca disini bagaimana James Riyadi merampas dengan cara paksa atau cara-cara diluar nalar akal budi yang sehat beberapa perusahan saingannya;

The Lippo Way! By John,The Case of Kemang Village[3]

Pada artikel kali ini,mari kita lihat dari sudut positif pula,bagaimana sebenarnya perusahaan The Lippo Way!It's How They Get So Rich dan cepat berkembang menguasai dunia perniagaan di seluruh Indonesia hingga ke mancanegara.
<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way!It's How They Get So Rich">
                 Ir.Hj.Dwi Condro Triono, M.Ag, Ph.D/Viaid.linkedin.com
Saya tertarik dengan tulisan Ir.Hj.Dwi Condro Triono, M.Ag, Ph.D.Finance Director di SYAFA'AT MARCOMM.
Pada tahun 2010 telah berhasil menyelesaikan program Doktor Falsafah (Ph.D) bidang ekonomi di Fakulti Ekonomi dan Perniagaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).Tentang Sistem Ekonomi Kapitalisme yang juga dianut oleh Konglo James Riyadi@The Lippo Group.

Sistem Ekonomi Kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan Ekonomi hanya akan terwujud, jika semua pelaku Ekonomi terfokus pada akumulasi Kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot wang” yang dikenal dengan Lembaga Perbankan.

Oleh lembaga ini, sisa-sisa wang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan wang di Bank tersebut?
Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari Bank, yaitu:
Fix return dan Agunan(Cagaran).

Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini.
Siapakah mereka itu?
Mereka itu tidak lain adalah kaum Kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar,untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga Perbankan ini sudah cukup?
Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar.

Dengan cara apa?

Yaitu dengan Pasar Modal.Dengan pasar ini,para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas Saham untuk dijual kepada masyarakat,dengan iming-iming akan diberi Deviden.
Siapakah yang memanfaatkan keberadaan Pasar Modal ini?
Dengan persyaratan untuk menjadi Emiten dan penilaian Investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja, yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu?
Kaum Kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Adanya tambahan Pasar Modal ini, apakah sudah cukup?
Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar.

Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”.
Bagaimana caranya?

<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way!It's How They Get So Rich">
Menurut Teori Karl Marx, dalam pasar Persaingan Bebas,ada Hukum Akumulasi Kapital (The Law Of Capital Accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil.

Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Taktik inilah yang digunakan James Riyadi terhadap Mall
Carefour,
The Lippo Way ! By John[8]Hypermart vs Carefour

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya?
Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Agar perusahaan Kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan Persaingan Pasar.

Persaingan Pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah.

Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb.

Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut?

Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika perusahaan Kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).

Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti:
Sektor Telekomunikasi, Transportasi, Pelabuhan, Keuangan, Pendidikan, Kesehatan, Pertambangan, Kehutanan, Energi, dsb.

Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan,karena hampir tidak mungkin rugi.

Lantas bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mendorong munculnya: Undang-Undang Privatisasi BUMN(Badan Usaha Modal Nasional)

Dengan adanya jaminan dari Undang-Undang ini,perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut.

Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika dengan cara ini kaum Kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan.
Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor Kekuasaan itu sendiri.

Kaum Kapitalis harus menjadi Penguasa, sekaligus tetap sebagai Pengusaha.
Untuk menjadi Penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya Kampanye itu tidak murah.

Bagi kaum Kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika kaum Kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka Hegemoni (pengaruh) Ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan Hegemoni ini.

Namun,apakah masalah dari kaum Kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata Hegemoni Ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup.

Mereka justru akan menghadapi problem baru.

Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses (kelebihan) produksi.>
Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar,jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen.

Lantas, ke mana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya?
Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan Hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang,yang padat penduduknya.

Teknisnya adalah dengan menciptakan "Organisasi Perdagangan Dunia/World Trade Organization"(WTO), yang mahu tunduk pada ketentuan "Perjanjian Perdagangan Bebas Dunia/World Free Trade Agreement (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mahu membuka pasarnya, tanpa halangan tarif bea-masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum Kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika Kapitalis dunia ingin lebih besar lagi,maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya.

Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek eksportnya.

Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah.
Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan Kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup?
Jawabnya tentu saja belum.!

Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi.
Caranya?

Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, Kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai Undang-Undang yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya:
Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan Asing & A Seng untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi).

Contoh Undang-Undang lain,yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan Asing & A Seng untuk mengeruk kekayaan SDA(Sumber Daya Alam) Indonesia adalah:
Undang-Undang Minerba(Mineral&Batubara), Undang-Undang Migas(Oil&Gas), Undang-Undang Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu.
Dengan cara apa?
Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah.

Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai Kurs Mata Wang lokalnya. Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang diperlukan adalah pemberlakuan Sistem Kurs Mengambang Bebas (Floating Rate) bagi mata wang lokal tersebut.

Jika nilai kurs mata wang lokal tidak boleh ditetapkan oleh Pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut? Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas).

Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya.
Jika nilai kurs mata wang lokal sudah jatuh,maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata wang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya.
Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah.

Bagaimana caranya?

Yaitu dengan melakukan proses Liberalisasi Pendidikan di negara tersebut.

Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap Undang-Undang Pendidikan Nasionalnya. Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi,berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan Subsidi bagi pendidikannya.

Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi.

Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya.

Dengan dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mahu digaji rendah.

Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan Sarjana.

Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara, dan mahunya digaji tinggi. Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara Hegemoni Kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan Intervesi Undang-Undang.
Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi.
Nah, cara inilah yang akan menjamin proses Intervensi Undang-Undang akan dapat berjalan dengan mulus.
Bagaimana caranya?

 Caranya adalah dengan menempatkan Penguasa Boneka.
Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mahu tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum Kapitalis dunia.

Bagaimana strateginya?
Strategi Inilah yang dimanipulasi oleh James Riyadi terhadap Bill Clinton mantan Presiden Amerika;


The Lippo Way!The Dark Side of James Riady[1]

The Lippo Way![2]James Riady China's Military Intelligence Agency[The End]


Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mahu menjadi Boneka.
Sarana tersebut,mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup?
Tentu saja belum cukup.!
Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru.
Apa problemnya?
Jika Hegemoni kaum Kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru.
Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut.
Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni,maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat.

Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum Kapitalis itu sendiri.
Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka.
Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua?
Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM.

Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan Pengembangan Masyarakat (community development),yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisional, mahupun industri kreatif lainnya.

Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil),agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit.
Kaum Kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini.
Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil,maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus,yaitu:
(1) Masyarakat akan tetap memiliki daya beli,
(2) akan memutus peranan pemerintah dan yang terpenting adalah,
(3) Negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.


Sampai di titik ini Kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”.
Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi?
Jawabnya ternyata masih ada.

Apa itu?
Ancaman Krisis Ekonomi.!
Sejarah panjang telah membuktikan bahwa Ekonomi Kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya Krisis ini.
Namun demikian,bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya.

Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya.
Apa itu?
Ternyata sangat sederhana.
Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bail-out) atau Stimulus Ekonomi.

Dananya berasal dari mana?
Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita fahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari Pajak rakyat.
Dengan demikian, jika terjadi Krisis Ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya?

Jawabnya adalah:
Rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, mahupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini?
Kaum Kapitalis akan tetap jaya, dan rakyat selamanya akan tetap menderita.
Di manapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama.
"Itulah produk dari Hegemoni Kapitalisme Dunia".

CATATAN:

Inilah cara mereka menjadi sangat kaya.Anda menabung/menyimpan wang di Banknya, Anda membeli saham perusahaannya, Anda memegang Card belanja tokonya, Anda membayar wang muka propertynya dan banyak caranya yang lain berarti Anda membesarkan perusahaannya dan Anda meminjaminya tanpa agunan(cagaran).

Anda berbelanja di toko/perusahaannya berarti Anda melariskan/memajukan usahanya.

Anda ber-sama-sama mendirikan perusahaan.Kalau perusahaan itu berkembang,Anda akan ulang-ulang diajak menambah modal perusahaan sampai Anda tidak mampu. Setelah itu anda akan jadi pemegang saham minoriti.

Itu akan terus berlanjut sehingga lama-lama Anda akan mundur sendiri kerana Anda hanya akan jadi pemegang saham yang sangat kecil dan tidak punya jabatan/wewenang di perusahaan.

Semoga Tulisan dari Ir,Haji Dwi Condro Triyono, Ph.D.ini, Insya Allah sungguh dapat menambah ilmu dan wawasan kita/Courtesy for idea Nelly Juliana/FB).

Share this: