The Lippo Way !By John[7]Great River Garment Case

The Lippo Way !By John[7]Great River Garment Case


<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way !By John[7]Great River Garment Case ">

Praktek penipuan ini banyak ditiru, bahkan kini menjadi lazim diantara perusahaan raksasa. Kenapa para kontraktor akhirnya menerima? Kerana dalam banyak kasus, harga property nya naik dan si kontraktor terjebak dengan perjanjian.

Salah satu kasus ngemplang(menipu)supplier terbesar mereka adalah kasus Great River Garment.
BACA Artikel Berkaitan:

The Lippo Way !By John,Case of Matahari Department Store

The Lippo Way !By John,Case of University Pelita Harapan[5]

The Lippo Way !By John[6]"Super Mall Karawaci"


Great River Garment

Great River adalah salah satu perusahaan Garment terbesar di Indonesia, didirikan oleh Sukanta Tanujaya.Seorang konglomerat yang membangun kekaisaran bisnisnya dari nol.

Bermula dari sebuah toko kecil dikawasan Glodok,Jakarta.Terlepas dari ukurannya yang sangat besar ini, Great River memiliki kelemahan besar, yaitu : client utama mereka adalah Matahari Department Store.
Matahari Dept Store saat itu sudah dirampas oleh Lippo.Dan melalui data yang dia miliki,James sudah tahu betul berapa besar penjualan dari Great River kepada Matahari Dept Store.

Konon, James mendekati Sukanta untuk membeli Great River dengan harga murah yang tentu saja langsung ditolak oleh Sukanta.

James marah dan memerintahkan Matahari Dept Store menghentikan pembayaran kepada Great River. GreatRiver akhirnya kesulitan cashflow, hingga tidak mampu membayar obligasinya yang jatuh tempo, bahkan gagal membayar gaji karyawan dan akhirnya mendatangkan gelombang demonstrasi yang besar.

Setahun lebih menagih tanpa hasil,akhirnya Great River melaporkan hal ini kepada Bapepam(
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan disingkat Bapepam-LK)

Tapi aneh, Bapepam bukannya memeriksa Matahari,mereka malah mengaudit Great River.Dari sana ditemukan sekitar 100 bilion dana yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.Sunyoto Tanujaya anak dari Sukanta Tanujaya malah dijadikan tersangka.

Kerana ketakutan, Sunyoto
Tanujaya melarikan diri ke Singapore.Disana dia meminta tolong pada Nikko Securities selaku 32 penjamin emisi dari Great River. Nikko setuju membailout Great River.

Usai di bail-out, Great River memutus kontrak dengan Matahari,dan memulai kontrak baru dengan Victoria Secrets.

Itupun tidak berjalan lancar. Banyak sabotase yang menghantui perjalanan bisnis mereka. Salah satu yang membuat manajemen baru mengelus dada adalah seringnya ditemukannya ular di kantor direksi.


<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way !By John[7]Great River Garment Case ">
(Dean Qian Yingyi presents a gift to Mr. Sukanta Tanudjaja on behalf of the School )

Media Suara Pembaharuan

Nah, kali ini adalah sebuah kisah dari kehebatan seorang Riady untuk memanfaatkan loop hole dari Hukum/Undang-undang Indonesia, dengan sangat baik sekali. Bahkan para pakar hukum korporat yang mendegar kisah ini hanya bisa melongo tidak percaya.

Diharapkan setelah membaca kisah ini, pembaca semakin hati‐hati sekali dalam mengurus kontrak bisnis.

Kisah ini adalah kisah pengambil alihan Media Suara Pembaharuan oleh Media Berita Satu milik Lippo.Media Suara Pembaharuan adalah bisnis rintisan keluarga Soedarjo. Keluarga Soedarjo adalah penganut Kristiani yang taat.

Pada suatu hari Pak Soedarjo sakit aneh dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya.Sakitnya semakin hari semakin parah dan beliaupun akhirnya meninggal 8 bulan kemudian. Tak lama setelah kejadian itu, James Riady mendekati keluarga Soedarjo untuk berinvestasi di Suara Pembaharuan. Bagi James, ini adalah investasi strategis yang penting untuk memoles citra mereka.

Konon, James juga sedang mempersiapkan John Riady anaknya untuk berkarir di ranah politik. Masuknya James ini mendapat tentangan keras dari Sasongko Soedarjo.Salah satu anak dari bapak Soedarjo.

Dia sudah dengar khabar hitam tentang sepak-terajang Lippo, terutama kasus pengambil alihan Matahari Department Store. Dia tidak mahu perusahaan warisan ini bernasib sama.Tapi dia kalah suara oleh saudaranya yang lain, yang sudah sangat memihak James.

Singkat cerita, sebuah harga diputuskan di angka Rp.40 Milyar untuk 40% saham.
Proses selanjutnya adalah sebagai berikut;

1. Menuliskan perubahan Akta Perusahaan, berisi masuknya Grup Lippo untuk membeli 40% saham Suara Pembaharuan, dan memasukan beberapa orang kunci dari Lippo dalam struktur Dewan Komisaris dan Dewan Direksi dari Suara Pembaharuan.

2. Surat ini di sahkan oleh Notaris, kemudian dilaporkan kepada Department Kehakiman.

3. Department Kehakiman memberikan persetujuannya, kemudian JR mentransfer wang sebesar 2 Milyar Rupiah

4. Bakinya katanya akan dibayar nanti Bisa ditebak,sisa pembayaran tidak pernah dia bayarkan.Dan setiap kali rapat direksi James Riyadi selalu bertingkah seperti pemilik 100% perusahaan dengan mengatur ini itu.Peristiwa ini selalu memicu pertengkaran antara dirinya dan Sasongko Soedarjo.

Makin hari, Sasongko semakin berani mendesak James untuk memenuhi kewajibannya atau ditendang keluar. Saat itulah James mengirimkan pembunuh gelap untuk menyingkirkannya, dan membuat seolah kematiannya kerana sakit.

Selepas kematian Sasongko,perlahan‐lahan saham keluarga Soedarjo beralih ke Lippo,dan kini mereka tidak punya pengaruh apa‐apa lagi di perusahaan yang dirintis ayah mereka itu.

Pertanyaannya adalah, kok bisa si JR yang Cuma setor Rp. 2 milyar berlaku begitu? Logikanya kan dia sudah ditendang keluar?

Rupanya inilah celah hukum yang ada di Indonesia. Jika :

1. Kehakiman sudah setuju akan perubahan akta
2. Sudah ada bukti transfer wang walaupun 1 rupiah Maka perjanjian itu dianggap sah.

Bagaimana wang yang sisa? Itu dilaporkan sebagai hutang si pemegang saham pada perusahaan.Tapi kedudukan JR sebagai pemegang saham tidak lagi dapat di ganggu gugat.

Harusnya jika mahu aman, kita sebaiknya tambahkan klausul pembatalan jika terjadi keterlambatan bayar.

TO BE CONTINUED....

Share this: